Penjelasan Ilmiah Mengenai Hantu



ebuah argumentasi ilmiah mengenai keberadaan hantu.
Kali ini saya akan berbagi sedikit informasi mengenai pembuktian fenomena hantu melalui kacamata ilmiah.
Ketakutan terhadap hantu bukanlah hal yang aneh. Dalam budaya Indonesia (dan Asia Tenggara secara umum), ketakutan pada hantu dan hal supranatural lainnya – walau anda percaya atau tidak – kerap kali muncul. Sebagai salah satu negara termistis di dunia, pop culture Indonesia pun sudah 'dirasuki' hantu; dari film-film bertemakan Kuntilanak atau Pocong, hingga serial televisi seperti Bukan Dunia Lain, hantu adalah sesuatu yang diterima secara harafiah pada budaya kita.
Dari semua cerita dan bukti anekdotal yang selalu muncul jika membicarakan hantu dan hal supranatural lainnya, jarang sekali ada orang yang membahas sisi ilmiah dari kejadian-kejadian ini. Tetapi, ini membuat pertanyaan baru: apakah ada sisi ilmiah dari munculnya hantu?
Pada tahun 1980an, seorang spesialis komputer bernama Vic Tandy dari The School of International Studies and Law at Coventry University di Inggris sedang bekerja larut di dalam laboratoriumnya saat dia tiba-tiba merasakan perasaan yang sangat tidak enak di dalam dirinya. Menurut tulisannya sendiri, ia merasa "...berkeringat walaupun dingin, bulu kuduk saya berdiri semua, dan saya merasa seperti ada orang lain di dalam ruangan bersama saya".
Vic terdiam seketika ketika mulai dilanda perasan-perasaan ini, dan dari pojok matanya ia dapat melihat sesuatu. Ia menjelaskan hal tersebut seperti berbentuk kabut, mempunyai semacam kaki yang membuatnya berjalan kearah Vic, dan hal tersebut mempunyai cahaya pada bagian atas tubuhnya. Vic terpaku untuk beberapa saat sebelum ia akhirnya memberanikan melihat kearah kabut tersebut, dimana kabut tersebut seketika lenyap.

Salah satu gambar yang diyakini sebagai fenomena penampakan hantu.
Sumber: 1.bp.blogspot.com
Panik dan kaget karena kejadian tersebut, Ia pun langsung menceritakan kejadian mengerikan tersebut kepada semua koleganya, yang langsung memberitakan kepada Vic bahwa kawasan laboratorium dimana Vic bekerja pada malam itu sering mengalami gangguan supranatural akhir-akhir ini, dan dia bukanlah korban pertama dari 'makhluk' tersebut.
Keesokan harinya, Vic mendapatkan 'gangguan' sekali lagi dari makhluk aneh ini. Disaat sedang istirahat, Vic memutuskan untuk melaksanakan hobinya bermain anggar. Ditengah latihan, ia melihat bahwa salah satu rapier(pedang anggar) yang tidak terpakai tiba-tiba bergoyang pada vice-nya. Dengan kaget, ia mulai memperhatikanrapier tersebut, dan menyadari bahwa rapier itu bukanlah sedang bergoyang, tetapi sedang bergetar pada tempatnya. Ia menghampiri rak dimana rapier itu disimpan dan mengambilnya, yang menyebabkan getarannya untuk berhenti.
Hari itu ia membawa rapier tersebut keliling beberapa ruangan di sekitar universitas dimana laboratorium itu berada, dan ia menemukan bahwa rapier tersebut bergetar pada beberapa kawasan di universitas tersebut, tetapi tidak bergetar sama sekali di kawasan-kawasan lain. Ia berhipotesa bahwa mungkin ada getaran-getaran suara yang hadir di kawasan-kawasan tertentu yang membuat rapier ini bergetar, dan ia memulai penelitiannya.
Dengan menggunakan beberapa peralatan yang didesain khusus untuk mengukur frekuensi suara di suatu kawasan, ia menemukan bahwa di kawasan-kawasan dimana tersebut bergetar, ada kehadiran suara infrasound. Suara infrasound ini memang sangat unik dikarenakan frekuensinya yang berada di 7-19hz, dimana telinga manusia mempunyai kemampuan untuk mendengarkan suara dari frekuensi 20hz sampai dengan 20,000hz, tergantung dari kesehatan telinga anda.

Alat yang digunakan untuk menangkap fenomena infrasound pada tahun 1980an.
Sumber: peterunderwood.org.uk
Berdasarkan penemuannya ini, Vic kemudian berhipotesa bahwa suara infrasound ini tidak dapat ditangkap oleh telinga manusia, namun dapat mempengaruhi kinerja telinga dan mata seorang manusia. Dikarenakan frekuensinya yang rendah, getaran dari infrasound ini dapat memasuki telinga manusia dan merusak cara kerja bagian dalam telinga manusia yang mempengaruhi ekuilibrium dan orientasi badan seseorang, hal inilah yang mengakibatkan perasaan tidak enak dan merinding yang sering dirasakan oleh orang-orang di kawasan-kawasan tertentu.
Terlebih lagi, Vic mengukur infrasound yang muncul pada bagian laboratorium dimana ia melihat ‘makhluk kabut’ yang mengganggunya pada malam itu dan menemukan bahwa infrasound di kawasan tersebut mencapai frekuensi 18.9hz, tepat di penghujung atas infrasound efektif. Ia juga menemukan bahwa pada frekuensi infrasound yang tinggi, infrasound dapat menggetarkan bola mata seseorang, mengakibatkan mereka berhalusinasi atau melihat hal yang statis (seperti debu) menjadi hal yang bergerak, sebagaimana dialami oleh Vic.
Setelah investigasi lebih lanjut, Vic menemukan bahwa penyebab dari hasil infrasound di sekitar laboratorium akibat dari pengaturan pipa ventilasi yang baru dipasang, yang menyebabkan angin dari ventilasi tersebut menggetarkan pipa-pipa dan menghasilkan frekuensi infrasound di daerah-daerah tertentu pada universitas tersebut.
Didorong rasa penasaran yang tinggi, Vic pun mulai membawa metode penelitiannya ke daerah-daerah lain yang terkenal “berhantu” di sekitar kotanya di Inggris. Ia menemukan bahwa bangunan-bangunan tua yang umumnya kosong dan tidak berisikan banyak benda memungkinkan angin untuk masuk dan membuat getaran infrasound.Terlebih lagi, ia juga menemukan bahwa bangunan-bangunan eropa tua, dengan koridor-koridornya yang panjang dan terbuka, amat kondusif untuk terbuatnya getaran infrasound ini, yang pada akhirnya akan membuat tempat-tempat ini terkesan sangat berhantu.
Penelitian Vic dimasukan kedalam sebuah tesis akademik bersama dengan seorang profesor psikologi dengan judul "Ghost in the Machine" yang diterbitkan pada tahun 1998. Tesis tersebut mendapatkan sambutan yang hangat dari segala macam jurusan ilmiah seperti fisika dan juga psikologi, dan mendapatkan dukungan dari pakar-pakar paranormal sekalipun.
Selang lima tahun kemudian, beberapa peneliti dari Inggris menggelar suatu eksperimen dimana mereka memainkan suara dalam frekuensi infrasound kepada 700 orang melalui sub-woofer yang berada di ujung sebuah pipa sepanjang tujuh meter. Konser tersebut berisikan dua pertunjukan, dengan setiap pertunjukan memainkan dua lagu. Dua dari empat lagu yang dimainkan malam itu berisikan suara infrasound pada frekuensi 17hz, yang mengakibatkan 22% dari orang yang hadir malam itu untuk melaporkan perasaan "tidak enak", "sedih", "ketakutan", "merinding", dan "tertekan".

Sejalan perkembangan zaman, alat yang digunakan semakin canggih.
Sumber: 1.bp.blogspot.com
Hasil akhir eksperimen tersebut membuktikan bahwa memang masih sangat mungkin bagi telinga manusia untuk terpengaruh oleh frekuensi tersebut, walaupun frekuensi yang efektif untuk setiap orang berbeda. Eksperimen tersebut juga membuktikan bahwa frekuensi yang dibutuhkan oleh infrasound untuk menggetarkan bola mata seorang individu tertentu berbeda pada setiap individu, jika diambil dari fakta bahwa tidak banyak dari orang yang hadir pada konser tersebut melaporkan mengalami gangguan penglihatan.
Maka, lain kali Anda sedang berkumpul dengan teman-teman dan bertukar cerita tentang pengalaman hantu anda yang paling seram, cobalah ceritakan kepada mereka sedikit informasi ini. Saya yakin bahwa banyak yang tidak percaya dan banyak yang akan bersumpah bahwa hal-hal supranatural memang sudah diluar nalar ilmiah yang dapat kita cerna, namun tidak ada salahnya kita semua mencoba memahami kejadian-kejadian seperti ini sedikit demi sedikit.

Sumber: Talkmen.com

0 comments:

Post a Comment